BAB
I
PENDAHULUAN
Hadits adalah
segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dari Nabi Muhammad SAW yang
dijadikan dasar hukum kedua dalam agama islam setelah Al-Qur’an . Al Qur’an
hanya berisi tentang hukum-hukum yang dirinci secara global dan tidak menjelaskan
penjabarab khusus hukum tertentu. Maka dari itu diperlukan sumber hukum yang
kedua yaitu Hadits.
Di dalam ajaran Islam dikenal adanya dosa
besar dan dosa kecil. Namun tidak didapati dalam Al qur’an penjelasan secara
rinci mengenai kedua hal tersebut, justru yang terungkap hanya dosa-dosa yang
paling besar diantara dosa-dosa besar. Sebagai manusia pasti pernah melakukan
kesalahan dan dosa, maka dianjurkan untuk segera bertaubat karena Allah SWT
senantiasa memberi ampunan dan menerima taubat setiap saat.
Untuk itu dalam
pembahasan makalah ini kami akan memaparkan tentang dosa besar dan taubat.
I.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa pengertian
dari dosa besar dan taubat?
B.
Bagaimana penjelasan Hadits tentang dosa besar dan taubat?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Dosa
Besar dan Taubat
1. Dosa Besar
Para ulama dalam mendefinisikan dosa besar mempunyai pendapat yang berbeda diantaranya :
Para ulama dalam mendefinisikan dosa besar mempunyai pendapat yang berbeda diantaranya :
a.
Segala sesuatu yang dilarang
Allah atau diharamkan
melalui nash Al-Qur’an. Seluruh nash-nash yang mengancam pelaku perbuatan dengan ancaman di
akhirat, mendapat laknat Allah atau mendapat ancaman keras.
b.
Tidak ada
dosa besar tanpa membaca istighfar (minta ampun) dan tidak ada dosa kecil yang
dilakukan secara continue, dengan kata lain dosa besar bisa diampuni dengan
melakukan istighfar dan dosa kecil bisa menjadi dosa
besar apabila dilakukan secara continue.
2.
Taubat
Menurut ahli bahasa Taubat adalah kembali,
sedangkan secara istilah taubat adalah kembali dari dosa.
Syarat taubat ada 3 :
a.
Mencabut akar kemaksiatan dari hati
b.
Menyesal atas perbuatan maksiat
c. Berkeinginan untuk tidak mengulangi lagi
selamanya
Substansi dari taubat itu
sendiri adalah rasa sesal yang merupakan rukun paling utama. Para ulama
bermufakat bahwa bertaubat dari semua kemaksiatan adalah wajib.
Golongan ulama berpendapat,
apabila kita telah bertaubat dari dosa kemudian ingat dosa itu wajib untuk
bertaubat menurut
sedangkan menurut Imam Hanamain tidak wajib.
sedangkan menurut Imam Hanamain tidak wajib.
B.
Hadits Tentang Dosa Besar dan Taubat
1.
Hadits Anas tentang menyekutukan Allah, duhaka kepada
orang tua, membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, dan saksi palsu
عَنْ أَ نَسٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ
قاَ لَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنِ الْكَباَ ئِرِ
قاَ لَ الاشْرَا كُ بِا للَّهِ وَ عُقُوْ قُ الْوَا لِديْنِ وَ قَتْلُ انَّفْسِ وَ
شَهاَ دَ ةُ الزُّوْرِ( أخرجه مسلم في كتاب الشهادات)
“Dari Anas R.A.
berkata, ketika Nabi SAW ditanya tentang dosa-dosa besar lalu
beliau menjawab: Syirik (mempersekutukan Allah), durhaka terhadap
kedua orang tua, membunuh jiwa (manusia) dan saksi palsu ”(HR.Muslim)[1]
a.
Syirik
(Menyekutukan Allah)
Syirik menurut
arti bahasa adalah menyekutukan dan syirik menurut arti istilah adalah
menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu makhluk yang lain, dalam bentuk pengakuan
perkataan maupun dalam bentuk perbuatan.[2]
Larangan berbuat syirik dalam surat
An Nissa’ ayat
36
وَاعْبُدُوا
اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي
الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ
وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ
أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Artinya
: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada
dua orang ibu bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang - orang miskin, tetangga
yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat,ibnu sabil dan hamba sahayamu.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang - orang yang sombong dan membangga banggakandiri”
b.
Durhaka
terhadap kedua orang tua
Pada dasarnya Segala sikap perbuatan
atau ucapan yang menimbulkan sakit hati terhadap kedua orang tua itu tergolong
durhaka kepada kedua orang tua. Durhaka kepada kedua orang tua tergolong dosa
besar, dan dosanya itulah yang akan menjadi penghalang untuk dapat masuk surga.[3]
Surat Luqman ayat 14
وَوَصَّيْنَا
الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ
فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Artinya
: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu -
bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah,
dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada Ku
dan kepadadua orang ibu bapakmu, hanya kepada –Kulah kembalimu.”
c.
Membunuh tanpa alasan yang dibenarkan
Membunuh manusia adalah melepaskan
nyawa seseorang dari jasadnya dengan sengaja, baik karena dendam, iri hati,
fitnah, maupun karena yang lain yang tidak dibenarkan oleh agama islam yakni
tidak ada dasar dari Al Qur’an dan hadis Rasulullah SAW
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ
خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا
Artinya : “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan
sengaja maka
balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya
dan Allah murka kepadanya,
dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”
d.
Saksi Palsu
Orang yang
menjadi saksi hendaklah memberikan kesaksian yang sesuai dengan keadaan
peristiwa yang sebenarnya dan tidak menambah atau menguranginya. Apabila
kesaksian itu tidak sesuai dengan keadaan, maka itu disebut saksi palsu.
Saksi palsu
yang diberikan di pengadilan itu akan merugikan orang lain dan termasuk
perbuatan dzalim, serta termasuk perbuatan dosa atau bohong,karena itu bersaksi
palsu termasuk dosa besar dan akan menuntun ke dalam neraka.
2.
Hadits Abu Hurairah tentang tujuh dosa besar
عَنْ أَ بِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قاَلَ اجْتَنِبُوْ
السَّبْعَ الْمُوْبِقاَتِ قاَلُوْاياَرَسُوْلَ اللَّهِ وَماَهُنَّ قاَلَ الشِّرْ
كُ باِللَّهِ وَالسِّحْرُوَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللَّهُ
إِلاَّباِلْحَق وَأَكْلُ الرِّباَوَاَكْلُ ماَلِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّيْ يَوْمَ
الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَناَتِ الْمُؤْمِناَتِ الْغاَفِلاَتِ (أخرجه البخاري
في كتاب الوصايا)
“Dari Abu
Hurairah r.a.
berkata, Nabi SAW bersabda: “ Tinggalkanlah tujuh hal
yang membinasakan!” Para sahabat bertanya:“Wahai Rasulullah, apakah tujuh hal
yang membinasakan itu?” Beliau menjawab: “ Menyekutukan Allah, sihir, membunuh
jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali karena hak, makan riba, makan harta
anak yatim, melarikan diri
sewaktu jihad dan menuduh zina wanita-wanita mukmin yang senantiasa memelihara
dirinya.”(HR.Bukhari)[4]
Tujuh macam
Dosa besar
a. Syirik
Syirik merupakan satu sikap yang sangat
dilarang untuk dilakukan, baik dalam bentuk keyakinan, ucapan maupun perbuatan.
Dan diperintahkan pula untuk dijauhinya, sebab syirik itu termasuk salah satu
dosa yang paling besar, sehingga diputuskan oleh Allah bahwa dosa syirik itu tidak
akan diampuni oleh Allah.[5]
An nahl ayat 74
فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ
لَا تَعْلَمُونَ
Artinya : “Maka janganlah kamu
mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
b. Sihir
Sihir adalah
perkara-perkara yang luar biasa yang dilakukan oleh orang tertentu dan dengan
cat teretentu dengan meminta bantuan kepada setan dalam rangka untuk
menyengsarakan manusia runtun mendatangkan bahaya bagi orang lain seperti menggunakan
jampi-jampi ,guna-guna dsb. Perbuatan ini sangat dilarang keras oleh agama dan
pelakunya tergolong kafir, oleh karena itu sihir tergolong dosa besar.[6]
c.
Membunuh jiwa
yang diharamkan kecuali dengan hak
Al maidah ayat
32
Artinya: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu
hukum) bagi Bani Israil, bahwa : barang siapa yang membunuh seorang manusia,
bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat
kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan
seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia
semuanya.Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan
(membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka
sesudah itu sungguh -sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”
Dari ayat tersebut, janganlah suka melakukan pembunuhan
dalam rangka untuk menyelesaikan persoalan kepada sesama manusia, agar tidak
terperangkap kedalam dosa besar, dan marilah mohon perlindungan kepada Allah
semoga Allah senantiasa menjauhkan kita dari perbuatan membunuh manusia.[7]
d. Makan Harta Riba
Riba adalah nilai tambah atau bunga
uang atau nilai lebih terhadap penukaran barang, pinjam-meminjam, dan hutang
piutang yakni satu akad yang dilakukan baik dalam akad hutang piutang,
pinjam-meminjam maupun dalam akad penukaran barang yang tidak diketahui sama
tidaknya, tidak diketahui besar-kecilnya dalam takaran maupun timbangannya atau
mengakhirkan penerimaan barang sesudah akad telah berlangsung. Karena itulah
riba tergolong dosa besar.[8]
Al
Imrom 130
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا
مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
memakan Riba dengan berlipat ganda, dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya
kamu mendapat keberuntungan.
e. Makan harta anak yatim
An Nissa’ ayat
10
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا
إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara
zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk
ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).”
Mengambil atau memakan harta benda anak
yatim itu sangat dilarang oleh agama dan dilarang untuk dekat-dekat terhadap
harta benda anak yatim agar hati-hati kecuali yang bersifat memelihara dan
menolong anak yatim. Dan orang yang memakan harta anak yatim itu diumpamakan
oleh Allah seperti makan api atau memasukan api ke dalam perutnya, dan ia akan
dimasukkan kedalam neraka, karena itu termasuk dosa besar.[9]
f.
Melarikan
diri dari perang (jihat)
Allah memberi izin untuk berperang bila
bertemu dengan musuh yang menyerang, Allah melarang kepada orang-orang Islam
lari dari peperangan, kecuali untuk mengatur siasat dan taktik atau untuk
bergabung dengan pasukan lain agar pasukan bertambah kuat, dan lari pertempuran
tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh hukumnya adalah haram.[10]
Al Anfal 15-16
g.
Menuduh
wanita mu’min berzina
Orang yang menuduh zina wanita
shalihah, dengan tidak mendatangkan empat orang saksi yang secara langsung
melihatnya dan adil atau dengan tidak memberikan bukti-bukti yang dibenarkan
oleh agama maka orang yang menuduh tersebut telah melakukan dosa besar dan
tuduhan yang dilakukan itu tidak boleh diterima karena jelas berdusta. ( http://nalar-langit.blogspot.co.id/ )
Dan hukumannya adalah didera 80 kali dan tidak
boleh diterima kesaksian mereka dan tuduhannya,serta mereka itu digolongkan ke
dalam orang fasik. Dan mereka itu akan dilaknat di dunia dan di akhirat kelak
akan ditimpa kepada mereka siksa yang besar.[11]
3.
Hadist Abu
Burdah tentang beristighfar 100 kali sehari.
عَنْ أَبِيْ بُرْدَة عَنْ رَجُلٍ مِنَ
الْمُهَاجِرِيْنَ يَقُوْلُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُوْلُ يَاأَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَىَ اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّي
أَتُوْبُ إِلَى اللهِ وَ أَسْتَغْفِرُوْهُ فِيْ كُلِّ يَوْمِ مِائَةَ مَرَّةِ أَوْ
أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ مَرَّةٍ.(رواه أحمد في مسند الكوفيين)
“Dari Abi Burdah dari seorang laki-laki dari sebagian sahabat
Muhajirin beliau mengatakan,kami telah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda: “
Wahai ingatlah manusia, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah dan mohonlah
pengampunan kami sekalian kepada-Nya, maka sesungguhnya kami bertaubat kepada
Allah dan kami mohon pengampunan kepada-Nya pada tiap hari 100 kali atau
lebih.”(HR.Ahmad)[12]
Nabi
Muhammad SAW mempunyai sifat ma’sum (orang yang di jauhkan dari dosa) dan sudah dijanjikan oleh Allah SWT akan masuk
surga namun beliau masih membaca istighfar kepada Allah SWT sebanyak 100x dan apa
yang dilakukan oleh Nabi Muhammdad SAW diikuti oleh umatnya untuk istighfar
kepada Allah. Sehingga menjadi kebutuhan sendiri bagi umat manusia. Istighfar
bertujuan untuk minta ampun kepada Allah supaya taubatnya sempurna dan dapat
diterima Allah SWT.
4.
Hadist Abu
Hurairah tentang Allah gembira terhadap hamba-Nya yang bertaubat.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَعَنْ رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ “قاَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ وَأَنَا مَعَهُ حَيْثُ يَذْكُرُنِيْ وَاللهِ
لَلهُ اَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ يَجِدُ ضَالَّتَهُ بِا
لْفَلاَةِ. وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعاً
وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ باَعاً وَإِذَا أَقْبَلَ
إِلَيَّ يَمْشِيْ أَقْبَلْتُ إِلَيْهِ أُهَرْوِلُ (أخرجه مسلم في كتاب التوبة)
“Dari Abu
Hurairah r.a. dari Rasulullah SAW beliau
bersabda: “ Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar
berfirman: “ Aku menurut dugaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya ketika ia
ingat kepadaKu. Demi Allah, sungguh Allah lebih suka kepada taubat hamba-Nya
dari pada salah seorang di antaramu yang menemukan barangnya yang hilang di
padang. Barang siapa yang mendekatkan diri kepadaku sejengkal maka Aku
mendekatkan diri kepadanya sehasta. Dan barang siapa yang mendekatkan diri
kepadaKu sehasta, maka Aku mendekatkan diri kepadanya satu depa. Apabila ia
datang kepadaKu berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari
kecil”.(HR.Muslim)[13]
Taubat berakar dari akar taba yang
berarti kembali. Orang yang bertaubat kepada Allah adalah orang yang kembali
dari larangan Allah menuju perintah-Nya, kembali dari segala yang dibenci Allah
menuju yang di ridhoi-Nya, kembali kepada Allah setelah meninggalkan-Nya, dan
kembali taat setelah menentang-Nya dan bertekat untuk tidak mengulanginya lagi.
Syarat taubat agar diterima disisi Allah, adalah :
a) Menyesali atas
pelanggaran yang dilakukan
b) Melepas dan
meninggalkan semua kesalahan dalam segala hal dan
kesempatan.
c) Bertekad untuk
tidak mengulangi lagi kemaksiatan dan kesalahan
yang telah dilakukan
5.
Hadist Abdullah
Ibnu Umar tentang taubat yang terlambat.
عَنْ عَبْدِ الله بْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلّىَ اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ لَيَقْبَلُ تَوْبَةَ
اْلعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ (أخرجه إبن ماجه في كتاب الزهد)
“Dari Abdullah bin Umar dari Rasulullah
SAW bersabda:“Sesungguhnya Allah yang Maha Agung menerima taubat seorang hamba
selama (ruh) belum sampai di tenggorokan.”(HR.Ibnu Majah)
Dalam
Islam tidak ada istilah terlambat untuk kembali kepada jalan
kebenaran kecuali kalau nyawa sudah berada ditenggorokkan atau matahari sudah
terbit dari barat, pintu taubat memang sudah tertutup. Maksudnya dari pernyataan tersebut adalah Allah tetap
menerima taubat seorang hamba-Nya selama nyawanya belum sampai di tenggorokkan.
Oleh sebab itu, bersegeralah bertaubat sebelum maut datang menjemput.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari
uraian di atas dapat kami simpulkan sebagai berikut
Dosa besar adalah segala sesuatu yang dilarang Allah atau diharamkan melalui
nash Al-Qur’an.Pengertian ini
diperkuat oleh hadits – hadits sebagai berikut
1.
Hadits Anas tentang menyekutukan Allah, duhaka kepada
orang tua, membunuh tanpa alasan yang dibenarkan dan saksi palsu.
2.
Hadits Abu Hurairah tentang tujuh dosa besar yaitu syirik, sihir,
Membunuh jiwa yang diharamkan kecuali dengan hak,makan harta riba,makan harta
anak yatim,melarikan diri dari perang,menuduh berzinah wanita mukmin
Taubat
adalah mencabut akar kemaksiatan dari hati,menyesal atas perbuatan maksiat yang telah
dilakukan serta berkeinginan untuk tidak mengulangi lagi selamanya. Pengertian ini diperkuat oleh hadits – hadits
sebagai berikut
1. Hadist Abu Burdah tentang beristighfar 100 kali sehari.Istighfar bertujuan untuk minta ampun
kepada Allah supaya taubatnya sempurna dan dapat diterima Allah SWT.
2.
Hadist Abu
Hurairah tentang Allah gembira terhadap hamba-Nya yang bertaubat.
3. Hadist Abdullah Ibnu Umar tentang taubat yang terlambat yaitu pada saat nyawa sudah
berada ditenggorokkan atau matahari sudah terbit dari barat, pintu taubat m
B.
PENUTUP
Demikian
makalah yang dapat kami uraikan. Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat
masih banyak kekurangan. Untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi
perbaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Aqis
bil Qisthi,Diantara Dosa-Dosa besar,(Surabaya: Putra Jaya,2007)
A.Hasan Asy’ari Ulama’i, Hadis-hadis Pendidikan Mental
Islami, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo,2008)
Imam Abu
Zakaria, Terjemahan Riyadhus Shalihin, ( Jakarta: Pustaka Amani,
1999)
Imam Muslim bin
Al-Hajjaj, Shahih Muslim juz II, ( Lebanon: Darul Kutub
Al-Ilmiyah, 2008)
Nawawi, Terjemah
Riyadhus Shalihin 2, ( Jakarta: Pustaka Amani, 1999)
http://nalar-langit.blogspot.co.id/
http://nalar-langit.blogspot.co.id/
[1]A.Hasan Asy’ari
Ulama’i, Hadis-hadis Pendidikan Mental Islami, (Semarang:
Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo,2008),hlm. 118
[2]Aqis
bil Qisthi,Diantara Dosa-Dosa besar,(Surabaya: Putra Jaya,2007),hlm 14
[3]Aqis
bil Qisthi,Diantara Dosa-Dosa besar,(Surabaya: Putra Jaya,2007),hlm
63-64
[4]Nawawi, Terjemah Riyadhus
Shalihin 2, ( Jakarta: Pustaka Amani, 1999), hlm. 592.
[5]Aqis
bil Qisthi,Diantara Dosa-Dosa besar,(Surabaya: Putra Jaya,2007),hlm 15
[6]Aqis
bil Qisthi,Diantara Dosa-Dosa besar,(Surabaya: Putra Jaya,2007),hlm 60
[7]Aqis
bil Qisthi,Diantara Dosa-Dosa besar,(Surabaya: Putra Jaya,2007),hlm 162
[9]Aqis
bil Qisthi,Diantara Dosa-Dosa besar,(Surabaya: Putra Jaya,2007),hlm 73
[10]Aqis
bil Qisthi,Diantara Dosa-Dosa besar,(Surabaya: Putra Jaya,2007),hlm 138
[11]Aqis
bil Qisthi,Diantara Dosa-Dosa besar,(Surabaya: Putra Jaya,2007),hlm
164-165
[12]Imam Abu Zakaria, Terjemahan
Riyadhus Shalihin, ( Jakarta: Pustaka Amani, 1999), hlm. 15.